Want To Know

Masih Belajar Blog

Pengalaman Yang Membawa Hikmah

untitledUstadz Yusuf Mansur

Perjalanan hidup membawa Yusuf Mansur kembali ke jalan Allah.

Kehidupan masa kecil Yusuf Mansur sebetulnya jauh dari dunia menyimpang. Pria kelahiran Jakarta, 19 Desember 1976 ini dibesarkan dalam keluarga ulama. kakek buyut Yusuf adalah KH. Mohammad Mansur, seorang ulama yang lebih dikenal dengan Guru Mansur. Tak heran jika kehidupan beragama sangat lekat dengan dirinya. Di usia muda, ketika duduk di MAN (setingkat SMA) ia menjadi qari atau pembaca Al Qur’an tingkat nasional. Bahkan di saat kecil Yusuf dikenal pula sebagai ustadz cilik yang sering diundang untuk berceramah ke berbagai kota.

Dengan segudang prestasinyaitu, tak heran jika kedua orang tuanya sangat memenjakan Yusuf. Menurutnya, sang orang tua selalu memberikan apa saja yang diminta. Apalagi, kedua orang tuanya terbilang berkecukupan.

Namun kehidupan anak sulung dari lima bersaudara ini mulai berubah ketika memasuki usia remaja. Ia lebih suka balap motor dan kebut-kebutan ketimbang kuliah. Arena balap motor liar di seputar Jakarta Barat menjadi lebih sering ia sambangi ketimbang mesjid-mesjid. Akhirnya, studinya di Jurusan Informatika menjadi berantakan dan tak mampu meneruskan kuliah.

Ia pun sempat terjerumus pada lilitan kasus utang piutang yang sempat membuatnya harus menjalani hukuman. Berkat kehidupan di penjara itulah kehidupan Yusuf Mansur berubah total. Ia melihat keutamaan sedekah yang begitu besar. Hal itu mendorongnya untuk menilik hadist-hadits yang berhubungan dengan sedekah, sekaligus berhubungan kembali dengan dunia keagamaan yang pernah ia tinggalkan.

Sejak kembali menekuni agama, suami dari Siti Maemunah ini seperti diberi hidayah untuk kembali ke jalan-Nya. Selepas itu ia bertemu dengan Ustadz Basyuni, yang memintanya untuk mengajar ngaji di sebuah rumah makan di terminal Kalideres. Yusuf menyanggupinya, meski ia terpaksa harus berjualan es untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari. “Saya sempat datang ke rumah orang tua untuk meminjam uang buat modal, tapi mereka tidak ada di rumah,” paparnya. Namun ia mendapat uang Rp 20 ribu dari kerabatnya. Uang itulah yang kemudian ia pakai untuk modal berjualan es plastik.

Di hari pertama, dari 75 es yang ia jajakan hanya laku 5 potong saja. Dalam usahanya untuk kembali ia kemudian teringat pengalamannya pernah membagi roti kepada semut yang ada di ruang tahanan. Keesokan harinya ia mencoba memberikan 5 potong es pada pengemis di terminal, ternyata ia tak mendapat “ganjaran” saat itu juga. Seharian berkeliling terminal, es yang ia jajakan tak juga laku. Akhirnya ia pasrah dan meletakkan termos es-nya di depan mesjid ketika ia shalat. Selesai shalat, ajaibnya, semua es yang ada di termosnya habis terjual. Hal itu membuatnya semakin meyakini jika sedekah memiliki keutamaan yang luar biasa. Seiring berjalannya waktu, ia semakin rajin bersedekah dan kehidupannya pun semakin membaik. “Hal itu juga memberi pelajaran berharga, bahwa sedekah itu harus di depan jangan di belakang atau menunggu sisa,” ucapnya.

Tak heran jika sejak itu, kebaikan sedekah selalu menjadi hal utama yang disampaikan oleh Yusuf Mansur dalam ceramahnya. Menurutnya, sedekah ibarat sebuah investasi yang nilainya berlipat-lipat. “Apa yang kita keluarkan untuk sedekah, akan dikembalikah sepuluh kali lipat oleh Allah. Oleh karena itu, bersedekahlah sebanyak-banyaknya,” ujarnya.

Filed under: Islam, Oase, Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RSS ELLE

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Fashion Magazine

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Berita Terkini

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: