Want To Know

Masih Belajar Blog

Isteri Rasulullah Yang Paling Takwa

Pengiring2Maimunah Binti Al-Harits

Pernikahannya dengan Rasulullah tidak dirayakan sebagaimana masyarakat Arab melangsungkan pesta pernikahan pada umumnya.

Dialah Maimunah binti al-Harits bin Huzn bin al-Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah al-Hilaliyah. Saudari dari Ummul Fadhl istri Abbas. Ia adalah bibi dari Khalid bin Walid dan juga bibi dari Ibnu Abbas.

Dia belajar Islam dari saudaranya Ummul Fadhl. Tatkala tersiar berita kemenangan kaum muslimin pada perang Khaibar, kebetulan ketika itu Maumunah berada di dalam rumah saudara kandungnya yaitu Ummu Fadhl, dia turut senang dan sangat gembira.

Dia juga mendengar figur utama umat Isla, Nabi Muhammad SAW. Dialah pembawa risalah Islam yang telah menyentuh hati Maimunah. Ingin rasanya ia berbakti kepada Rasulullah sepanjang hidupnya. Tapi entah kapan itu bisa terwujud.

Setelah mendengar banyak mengenai Islam dia pulang ke rumah suaminya. Dia mendapatkannya dalam keadaan sedih dan berduka cita karena kemenangan kaum muslimin, bukan kaum kafir yang dia puji. Maka hal itu memicu pertengkaran diantara mereka yang mengakibatkan perceraian. Tak kuat menahan amarah, Maimunah keluar dari rumah itu.

Dia bersegera menuju Ummu Fadhl dengan suaminya ‘Abbas, untuk menjadi seorang muslimah. Tanpa ragu sedikitpun, Abbas bersegera menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menawarkan Maimunah menjadi isteri Nabi. Dan Nabi pun menerimanya dengan mahar 400 dirham.

Tidaklah Maimunah itu seorang perawan. Dia adalah janda. Sebelum menjadi muslimah, dia adalah isteri Mas’ud bin Amru ats-Tsaqafi. Dia adalah wanita yang menghibahkan dirinya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah kejadian itu, turunlah firman Allah SWT al-Ahzab ayat 50.

Dan menikahlah Rasulullah dengan Maimunah. Tidak dengan pesta, tapi hanya disaksikan umat Islam disana saja, tanpa mengundang masyarakat jahiliyah di sekitarnya. Sebabnya, umat Islam harus segera meninggalkan Mekkah, karena mereka hanya berhak tinggal di sana selama tiga hari, sebagaimana tertulis dalam perjanjian Hudaibiyah.

Maka berjalanlah mereka menuju Madinah. Tatkala sampai disuatu tempat yang disebut Sarfan, sebuah tempat berjarak 10 mil dari Mekkah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai malam pertamanya bersama Maimunah radhiallaahu ‘anha. Hal itu terjadi pada bulan Syawal Tahun 7 Hijriyah.

Dahulu tempat ini dikenal dengan sebutan Bazah, sebuah daerah yang sering dilewati jika seseorang bepergian dari Mekkah ke Madinah. Setelah beberapa saat di tempat itu, bersama isterinya, Rasulullah kembali meneruskan perjalan menuju rumahnya,  menuju kota Madinah.

Di kota itu, Maimunah hidup, berbakti kepada Rasulullah sepanjang hidupnya. Sekitar 50 tahunan usianya. Semuanya ia jalani dengan kesetiaan kepada sang suami. Sebelum ajal datang, ia berpesan kepada Rasulullah agar dikuburkan di Sarfan.

Setelah ia wafat, seorang Sahabat keluar bersama Ibnu Abbas. Di saat itu, Ibnu Abbas berkata, “Apabila kalian mengangkat jenazahnya, maka janganlah menggoncang-gonncang atau menggoyang-goyangnya. Lemah lembutlah kalian dalam memperlakukannya karena dia adalah ibumu”.

Berkata ‘Aisyah setelah wafatnya Maimunah: “Demi Allah! telah pergi Maimunah. Demi Allah! Ia adalah yang paling takwa diantara kami dan yang paling banyak bersilaturrahim..

Sumber : Majalah Sabili Edisi 4 TH XVI 10 September 2009

Filed under: Belajar Agama, Islam, Sejarah Islam

RSS ELLE

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Fashion Magazine

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Berita Terkini

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: