Want To Know

Masih Belajar Blog

Bakti Abu Hanifah pada Ibunya

Pengiring

Ketika bertemu dengan sang ibu, Abu Hanifah ditanya mengenai hukum sumpah. Entah ibunya pernah bersumbah apa, yang jelas dia menanyakan, jika tidak mampu melakukannya, harus diganti dengan apa.

Sebagai seorang mufti, tentu Abu Hanifah tahu. Dan dijelaskanlah masalah itu kepada ibunya. Tapi si ibu merasa belum puas. Ingin dia mendengan penjelasan dari seorang ustadz.

Dengan senang hati, Abu Hanifah mengantarkan ibunya ke rumah seorang ustadz. Sesampainya di sana, ibunya tersebut mengadukan permasalahan persis seperti yang dia lakukan kepada anaknya. Bukannya menjawab, ustadz tersebut justru balik bertanya, “Apa pantas saya memberikan fatwa, sementara anakmu, faqih Kuffah ada disini bersamamu?”

Demikianlah sikap Abu Hanifah. Ketika ketinggian ilmunya dibarengi dengan mengingat Allah. Tentu tak sedikitpun terbesit dibenaknya untuk menyengsarakan orang yang pernah melahirkan dan mengasuhnya. Tak heran bila dia berkata, “Demi Allah, bukan pukulan cambuk yang menyakitiku, namun cucuran air mata bundaku yang membuat hatiku terluka.”

Berbeda dengan anak zaman sekarang. Jika sudah berhasil maka nasib ibu berakhir di panti jompo biar tidak merepotkan. Padahal ketika melahirkan dulu, betapa si anak merepotkan sang ibu, hingga dia nyaris mengorbankan nyawanya..

Oleh: Tri Handoyo, pada Majalah Sabili Edisi 4 TH XVI 10 September 2009

Filed under: Belajar Agama, Islam

RSS ELLE

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Fashion Magazine

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Berita Terkini

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS KOMPAS

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
%d blogger menyukai ini: